Tuesday, April 23, 2013

Solar dan Pertadex


Bahan bakar yang bagus adalah solar dengan tingkat sulfur yang semakin rendah.

Bahan bakar solar secara umum memiliki ekitar 2.000 ppm, sementara bio solar 500 ppm, lantas PertaDex dan Shell 300 ppm. 

Di Indonesia, kualitas solar memang tak sebagus di luar negeri, terutama Eropa. 

Peugeot RCZ tersedia dalam versi diesel 2.000 cc. Tekhnologi yang dibutuhkan oleh mobil tersebut memerlukan kadar bahan bakar yang mumupuni. Produk diesel ini sudah berstandar euro5.

PT Mercedes benz Indonesia beberapa waktu lalu merilis produk flagship berupa Mercedes Benz S-Class yang tersedia dalam varian bermesin diesel namun tidak ikut dijual di Indonesia. Karena memiliki standar emisi Euro4 yang mengharuskan menggunakan solar dengan kadar sulfur rendah.

Ketersediaan bahan bakar solar berkualitas baik seperti Pertamina Dex masih sangat sulit dicari di Indonesia, padahal dibutuhkan bahan bakar kualitas baik untuk tekhnologi mesin diesel.

Mercedes Benz banyak menemukan kadar sulfur yang tidak seharusnya dalam solar non subsidi yang beredar di sini. Dengan alasan tersebut dan demi kenyamanan pengguna, Mercedes Benz Indonesia urung membawa varian S-Class berbahan bakar solar tersebut. 

PT Pertamina mengeluarkan solusi adanya kelangkaan solar subsidi beberapa bulan terakhir, dengan mengeluarkan produk terbarunya yakni Pertadex atau lebih dikenal Bahan Bakar Solar non subsidi. Dan penjualan Pertadex mengalami peningkatan sangat signifikan dalam tiga bulan terakhir.

Penjualan solar non subsidi (Pertadex) sejak Desember 2011 sebanyak 875 Kilo Liter (KL) perbulan. Dan terjadi peningkatan pada bulan Januari mencapai 970 KL. Bahkan memasuki bulan Februari, permintaan Pertadex ke masyarakat meningkat menjadi 996 KL dengan harga jual Rp 10.300 perliternya.

Formulasi Pertadex di Kalimantan mulai diminati masyarakat. Walau saat ini Pertamina hanya menyiapkan di beberapa kota besar saja. Untuk penjualan per galon (10 liter) dijual dengan harga Rp 185 ribu. Bambang menjelaskan produk ini berkualitas tinggi serta mampu merawat mesin diesel dengan sebaik mungkin apalagi untuk kendaraan baru.

Khusus penjualan di Balikpapan Pertadex mulai meningkat dengan rata-rata penjualan 6-8 galon perbulan. Ini artinya pemilik kendaraan roda empat dengan BBM Solar sudah mengkonsumsinya. 

Mesin diesel pada mobil-mobil baru saat ini, umumnya sudah dibekali teknologi common-rail. Sistem kerjanya memakai pengontrol katup solenoid elektronik, yang memungkinkan solar terinjeksi sesuai jumlah yang dibutuhkan. Konsekuensinya mesti menggunakan jenis solar sesuai standar yang dibutuhkan mesin diesel common-rail.

Syaratnya mesti memenuhi dua unsur penting, yaitu angka setana(cetane number) lebih tinggi serta kandungan sulfur yang lebih rendah. Pertimbangannya, jika partikel bahan bakar kontak dengan udara, solar akan sulit terbakar di ruang bakar. Kondisi ini akan mengakibatkan penundaan atau jeda pada proses pembakaran yang cukup lama. Sehingga bisa menyebabkan gejala detonasi (ngelitik) pada mesin diesel.

Semakin tinggi angka setana semakin baik, karena dapat mempersingkat durasi jeda pembakaran di ruang bakar. Efeknya gejala ngelitik bisa ditekan, sehingga tenaga mesin tidak berkurang.

Selain itu perlu memperhatikan kandungan sulfur (sulphur content) dalam solar. Sebab mesin diesel masa kini memang membutuhkan bahan bakar dengan kandungan sulfur rendah. Sebab material belerang ini bisa memicu karat, yang memungkinkan terjadinya penyumbatan di saluran-saluran kecil pada sistem common-rail.

Bisa dicermati dari spesifikasi bahan bakar solar beberapa produk, seperti Pertamina Dex. Cetane number-nya minimum 54, maksimum sekitar 55-56. Sedangkan kandungan sulfurnya 300 ppm (parts per million).

Mesin diesel common-rail umumnya butuh cetane number tinggi serta kandungan sulfur yang cukup rendah(kiri atas). Semakin bening warna solar, kandungan sulfur lebih rendah(kiri bawah). Penggunaan additive seperti cetane booster cukup efektif buat menaikkan angka setana(kanan).

Adapula Biodiesel (Pertamina) yang memiliki kandungan sulfur sekitar 500 ppm, dengan angka setana antara 48 (min)-51 (max). Bandingkan dengan solar standar yang punya sulphur content di atas 500 ppm, dengan cetane number maksimum 48.

Sedangkan solar produksi Shell, kandungan sulfur di dalamnya sekitar 50 ppm, dengan angka setana antara 48 (min) hingga 52 (max). Menurut Sri Wahyu Endah, media relations manager PT Shell Indonesia, Shell Diesel direkomendasikan untuk semua jenis mobil berbahan bakar solar. Lantaran bisa membuat mesin tetap bersih dan bebas dari deposit.

Nah tidak ada ruginya bersikap lebih selektif dalam menggunakan solar untuk mobil diesel Anda, ketimbang mesti berkorban lantaran mengalami kerusakan di kemudian hari.

Sumber :
koran-jakarta.com
kaltim.tribunnews.com
mobil.otomotifnet.com

No comments:

Post a Comment